Dahulu, Ki Ageng Pandanaran adalah Bupati Semarang yang kaya tetapi menjadi serakah. Sunan Kalijaga menegurnya dengan menyamar sebagai pedagang rumput dan menunjukkan bongkahan emas dari tanah. Ki Ageng sadar, bertobat, lalu meninggalkan jabatannya untuk berdakwah. Dalam perjalanan, Nyai Pandanaran melanggar pesan suaminya dengan membawa harta dan dirampok. Sunan Kalijaga menyebut ada tiga pihak yang bersalah. Tempat itu kemudian disebut Salah Tiga, yang berkembang menjadi Salatiga.