Tujuh hari setelah kepergian adiknya, seorang kakak masih terjebak dalam rasa bersalah dan kehilangan. Hari itu terasa biasa—ia bersiap kuliah, menaiki bus Transjakarta seperti rutinitas biasanya—namun setiap hal kecil mengingatkannya pada Qia: kursi kosong di meja makan, rumah yang lebih sunyi, dan kenangan terakhir yang terus berulang di kepalanya.