Cerita dimulai pada tahun 1873 di kesultanan Aceh Darussalam, seorang penulis hikayat dan uleebalang dari sebuah mukim pada daerah inti yang hidup bersama seekor makhluk ajaib yang berwujud seperti burung kucica ekor kuning. Sang penulis hikayat bercerita tentang nilai-nilai kebudayaan di Aceh dalam monolognya sebelum desanya diserang oleh tentara Belanda. Sang penulis menunjukkan kekhawatirannya tentang nilai kebudayaan Aceh dimasa depan, yang menyebabkan sang makhluk menggunakan kekuatannya.