Resort Nirwana berdiri di atas tanah terkutuk. Dahulu, Kinan, sang sinden primadona, diculik dan dihancurkan oleh para biadab di desa ini hingga nyawanya hilang tragis. Jasadnya terkubur tanpa nisan bersama dendam yang membara. Kini, kemewahan Nirwana hanyalah kedok. Saat tengah malam, alunan gending gaib merayap di lorong sepi. Bau melati busuk menyambut sosok berkebaya merah dengan leher patah. Kinan tidak butuh doa; ia butuh tumbal. Siapa pun yang mendengar kidungnya, takkan pernah keluar