Aku duduk di hadapan perapian; jemariku gemetar memeluk secangkir cokelat hangat yang mengepul tipis. Api memantulkan bayang‑bayang di dinding, namun hangatnya tak mampu mengusir dingin yang menetap di rongga dada. Dua cucuku berlari masuk, wajah mereka berseri; suara kecil mereka menembus hening rumah: “Grandpa! Tell us a story!”