Di tengah ambisi politik antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit, seorang putri dipilih bukan sebagai manusia, melainkan sebagai simbol penaklukan. Dyah Pitaloka dipersiapkan menikah dengan Hayam Wuruk demi menyatukan dua kekuatan besar di tanah Jawa. Namun, perjalanan menuju persatuan perlahan menyingkap kenyataan pahit, harapan akan pernikahan berubah menjadi ketegangan politik yang mematikan. Dyah Pitaloka dihadapkan pada pilihan tragis, menjadi persembahan atau mempertahankan martabat.
